Langsung ke konten utama

Kita akan menjadi kejora di batas cakrawala

Ini kisah tentang seorang lelaki yang sangat berharga dalam hidupku.
Beberapa hari yang lalu, dia membuatku menangis terharu dengan kiriman smsnya :
Mbak, aku mau tanya. Apa maksud huruf "mim" kecil diatas huruf "nun" sukun/tanwin? Kok ada huruf "mim" kecilnya ya? Disebelah huruf "nun" ada huruf "ba" mbak. Aku udah nyampe iqro 6. Tapi selalu bermasalah sama huruf itu. Itu gimana bacanya Mbak?
Ya, itu adalah sms yang dikirim adikku kemarin. Mungkin bagi kalian, ini terdengar biasa namun bagiku, ini adalah hal yang luar biasa, sebuah progres yang sangat baik .
Dengan semangat dan perasaan mengharu biru, aku membalas sms adikku :
Itu namanya iqlab, sayang. Kalau ada "nun" mati ketemu "ba", maka dibacanya bukan "n" tapi "m". Misalnya : mim kasrah nun sukun ba fathah dal kasrah --> dibacanya "mimba'di" bukan minbadi

Saat ini dia duduk di kelas 2 SMP, aku merasa sedih karena adikku belum bisa membaca Alquran. Tapi itu adalah perasaan beberapa bulan yang lalu. Sekarang aku sangat bahagia melihat kemauannya untuk belajar, mengejar ketertinggalan selama ini.

Sebenarnya, bila dibandingkan dengan aku, dia tidak jauh berbeda dariku. Kami sama-sama mengalami apa yang disebut "ketertinggalan dalam mengenal Islam". Akupun dulu baru benar-benar bisa membaca Alquran dengan baik sewaktu kelas 1 SMA, sewaktu ikut ROHIS. Meskipun demikian, dari kelas 1 SD sampai lulus SMA aku selalu mendapatkan nilai 9 di mata pelajaran ini. Ini bukanlah hal yang membanggakan, karena sejatinya nilai itu aku dapatkan lantaran ingatanku yang cukup kuat untuk menerima muatan materi yang disampaikan guruku saat itu, bukan lantaran pemahamanku yang sangat baik tentang Islam.

Kami tinggal di sebuah desa yang bisa dibilang sangat jauh dari tatanan masyarakat yang Islami. Waktu aku masih kecil, hanya ada 1 TPA yang berfungsi dan itupun cuma dikelola oleh 2 orang tua yang sudah sepuh sekali. Aku dan adikku jarang sekali mendapat asupan-asupan rohani dan  dorongan untuk mempelajari Islam lebih jauh. Dari kecil kami tidak mengikuti program mengaji di TPA seperti yang teman-teman lainnya lakukan. Kami belajar dari membaca dan mendengar oranglain yang sedang membaca Alquran.

Kami tumbuh bersama. Tapi aku harus mengakui bahwa dia lebih kuat dariku. Aku bisa menikmati masa-masa kecilku dengan sangat bahagia, selisih usia 7 tahun membuatku menikmati status anak bungsu yang mendapat limpahan kasih sayang yang besar dari kedua orangtuaku. Tapi tidak dengannya, karena kondisi finansial kami waktu itu sangat meprihatinkan, ia ditinggal oleh ibuku untuk bekerja di pulau Kalimantan, diusianya yang masih belia. MASIH 1,5 tahun.

Aku ingat saat-saat dia menangis di malam hari meminta susu dan aku harus segera bangun untuk mengambilkannya.  Akupun tidak lupa saat ia pertama kali bisa berbicara, bisa berjalan dan bisa bersepeda, ia melalui semua itu tanpa perhatian penuh dari Ibuku. Waktu itu aku berpikir :"kenapa ibu jahat?kenapa dia tega meninggalkan adik yang masih kecil?". Aah, itu pikiran dangkal seorang Rosi kecil. Kini aku paham kondisi saat itu, justru aku tidak tahu lagi bagaimana aku harus berterimakasih kepada malaikat yang bernama "ibu" itu. Sungguh, dia adalah wanita tangguh yang pernah aku temui dalam hidupku.

Meskipun adik tumbuh tanpa pengawasan ibu, tapi masa kecilnya bisa dibilang adalah masa-masa "manja. Apapun yang ia minta pasti dikabulkan oleh kedua orangtuaku. Ia punya semua mainan yang trend waktu itu mulai dari mobil-mobilan, pesawat, robot, pistol dll. Ia menjadi anak yang sangat manja sampai ia kelas 6 SD. Aku masih ingat dia terakhir minta dibelikan PS yang baru, minta dibelikan HP, minta dibelikan laptop dll yang hampir semua dikabulkan oleh kedua orangtuaku. Bagaimana tidak? kalau tidak dipenuhi, dia akan langsung menangis berhari-hari sampai keinginannya terpenuhi. Aku sedih tiap kali mengajaknya shalat, dia lebih memilih main PS. Aku sedih juga saat ia tidak mau aku antar ke TPA untuk mengaji. Alasannya tidak ada temanlah, pengajarnya galaklah.

Aku sadar, ini tidak boleh terus-terusan dibiarkan. Aku berpikir keras bagaimana agar aku bisa memberi pemahaman agama yang baik kepada adikku. Adikku semakin tumbuh besar, terlebih dia adalah seorang laki-laki yang akan menjadi pemimpin dalam keluarganya. Ia harus mengenal Allah dengan baik, dengan memiliki pemahaman yang baik terhadap agamanya. Aku ingat benar kata-kata murabbiahku bahwa sejatinya dakwah yang paling efektif adalah memberikan teladan. Aku berusaha memberikan teladan kepadanya melalui tindakanku sehari-hari, mulai dari shalat tepat waktu, membaca alquran sehabis shalat, qiyamul lail dan bangun pagi menjelang shalat subuh. Namun aku merasa tidak ada perubahan yang signifikan waktu itu. Adikku tetap lebih suka bermain game, tidak mau mengaji dan sering bolong-bolong shalatnya.

Akhirnya, liburan semester 4 kemarin, aku bertekad untuk benar-benar menghabiskan liburanku bersamanya. Aku off dari segala tawaran kepanitiaan dan aku fokus menyusun strategi baru untuk "meluluhkan" adikku. Aku selalu mengajaknya shalat bersama, mengajarinya membaca Alquran dari tahap yang sangat dasar, memberinya semangat melalui cerita-cerita sehabis shalat dan mengajarinya dengan cinta, bukan dengan pemaksaan. Dia juga sering aku ingatkan melalui telepon atau sms, paling tidak bertanya : hayoo, kamu udah shalat belum?
.
Alhamdulillah, sekarang dia sudah mau shalat. Sekarang dia juga mau mengaji. Sekarang dia sudah tidak manja lagi, tidak banyak meminta ini itu. Sekarang dia menjadi penurut...Alhamdulillaah.


Aku harus mengakui, adikku mempunyai otak yang cerdas. Ia sangat mudah mengingat dan mudah menangkap materi-materi yang diberikan disekolah. Tapi sayangnya dia sangat malas belajar. Boleh dibilang, dia tidak pernah belajar, pun menjelang masa-masa ujian. Ada keahlian khusus yang dia miliki, yang menurutku sangat membuatku bangga. Dia bisa melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh banyak orang. Adikku sangat pintar bermain game, dia bahkan sering mengalahkan mas-mas warnet yang terkenal sebagai gamers itu. Aku sudah bisa melihat bakatnya sejak ia masih kecil. Ia suka sekali membongkar sesuatu dan merakitnya kembali, ia suka bereksperimen dengan barang-barang disekitarnya, ia suka hal-hal yang berbau teknik. Tidak sampai disitu, diusianya yang masih belia ia sudah bisa mengoperasikan laptop dengan baik. Terakhir, aku dibuatnya terharu saat ia membuatkanku aplikasi kartun berjalan dengan kemampuannya sendiri yang bahkan akupun tidak bisa membuatnya.

Karena adikku malas belajar apalagi menghafal, nilai pelajaran IPSnya sangat jeblok. Pernah suatu kali gurunya mengeluh kepadaku kenapa adik bisa mendapat nilai 5 dan 6 di pelajaran ekonomi dan sejarah tapi ia selalu mendapat nilai IPA diatas 8.


Bagaimanapun caranya, aku bertekad untuk menyekolahkan adikku sampai Perguruan Tinggi nanti. Aku ingin dia bisa masuk di Teknik UI atau ITB. Aku tidak mau ia hanya berakhir di STM, seperti kebanyakan orang didesaku. Aku adalah orang yang akan menjadi panutan adikku jadi aku sadar benar bahwa aku tidak boleh gagal. Aku harus menjadi kakak yang membanggakan.......
sampai aku dan dia menjadi kejora dibatas cakrawala, untuk keluargaku tercinta.



Depok, 3 Oktober 2012. 04.15


Komentar