Langsung ke konten utama

Postingan

Menikah

Saya mungkin termasuk kelompok yang sudah kebal dengan pertanyaan-pertanyaan “kapan nikah?” yang sudah sangat sering saya dengar di telinga saya. Baik menjelang lebaran, momen bertemu teman lama, bahkan dalam perbincangan sehari-hari. Semua orang seakan-akan bersepakat pada satu hal yang sama : “Kami ingin segera melihat Rosi menikah”. Beruntung sekali berada di lingkungan teman-teman yang amat peduli pada saya. Tetapi di satu sisi mungkin mereka tidak cukup tahu dengan apa yang saya alami selama ini. Banyak yang mengatakan bahwa saya adalah orang yang “ picky ”, saya judes sama laki-laki, cuek, tidak peka dan sebagainya. Saking banyaknya yang mengatakan seperti itu, saya introspeksi diri juga akhirnya : apa iya?. Dan mau tidak mau, dalam beberapa hal saya memang harus mengakuinya. Namun, saya menyadari bahwa semua itu saya lakukan karena saya memiliki alasan. Ya, saya mengenal diri saya sendiri. Meski saya terlihat sebagai orang yang ekstrovert, tetapi semua test menyat...

I wonder if you are proud of me

I wonder if you are proud of me, would be proud of me, if you were still alive. I wonder if you’d tell me to keep writing, to never let my words die, even if my hopes sometimes do. I wonder if you’d tell me to be on my own and stop worrying so much about love. I wonder if you’d smack my arm and tell me to talk to God more than I do. I wonder if you listen when I pray, if you’re the one watching my footsteps, pushing me through when I feel tired. I wonder, when it rains and I wake in the middle of the night to the drops hitting my windowpane, if it’s you reminding me I am here, and I am loved.

Dari Atticus Finch dan Nabi Muhammad

“You never understand a person untill you consider things from his point of view...Untill you climb inside of his skin and walk around it” -Atticus Finch, dalam buku “To Kill a Mockingbird” Perkataan Atticus Finch tersebut adalah salah satu dari sekian banyak perkaatan inspiratif yang saya temukan di buku “To Kill a Mockingbird”. Saya membaca buku ini kira-kira tahun 2014 yang lalu, tetapi ternyata baru sempat menonton filmnya dan membuat reviewnya saat ini. Bedanya, tahun 2014 lalu saya sedang heboh-hebohnya mengerjakan skripsi, saat ini sedang heboh-hebohnya mengerjakan revisian tesis..hihi. Saya menyukai keduanya, baik buku ataupun filmnya. Ceritanya di kemas dengan cara sederhana, tetapi sarat makna. Kelak, mungkin buku dan film ini akan masuk dalam list karya yang harus disaksikan oleh anak-anak saya kelak, selain : Mona Lisa Smile, Freedom Writers, The Help, Mulan, Moana, Kungfu Panda, Hidden Figures, The Diary of Anne Frank dll (insyaAllah lain kali saya akan menuli...

Kuliner Pinggiran Favorit Rosi di Sekitar ITB

  Haiii...selamat hari Minggu! Pada kesempatan ini, saya ingin sharing tentang makanan-makanan yang saya suka di sekitaran ITB. Oiya, yang mau saya share ini makanan di pinggir jalan ya hehe. Aspek pertama yang saya lihat tentu saja rasa, dan keterjangkauan harga hehe. Faktor ketiganya adalah sistem sanitasinya yang gak jorok-jorok amat. Selama di Bandung, saya harus beradaptasi kuat soal makanan. Bayangkan, orang Sunda disini kalau masak asiiiiiiiinnya masyaAllah. Saya di rumah kalau masak asin dikit, Bapak saya langsung complain “Nduk, kamu ini masak sambil melamunin pacar ya?”, begitu. Nah kalau di Bandung ini hampir semua masakannya asin-asin hiks. Akhirnya saya suka kulineran untuk mencari makanan yang cocok di lidah saya. Oiya, Bandung ini termasuk surganya kuliner. Kreatif banget kotanya. Gak cuma dari sisi seni, olahraga, desain, tata kota dll, tapi kota ini menyajikan tempat makan yang unyu-unyu. Kalau Anda mementingkan sisi instagramable dari sebuah tempat ...

Kebebasan dan Bakti

“Ni, apa yang kamu temukan di huruf Belanda?” Kebebasan. “Lalu, apa yang tidak kamu temukan di huruf Belanda?” Entahlah, aku belum tahu. “Bakti” Potongan dialog tersebut adalah bagian yang paling berkesan bagi saya ketika menonton film KARTINI karya salah satu sutradara favorit, Hanung Bramantyo. Dialog terjadi antara Kartini dengan Ibunya di pinggir kolam yang sangat indah dan damai. Saya tidak ingin banyak spoiler tentang film ini, tapi saya akan mencoba bercerita tentang dalamnya pesan yang saya dapatkan dari dialog tersebut. Seperti yang kita tahu lewat sejarah, Kartini hidup pada masa ketika perempuan berada dalam kurungan adat istiadat. Ia merasa hidupnya terkungkung dengan aturan-aturan ruwet yang mengikis hak dan kebebasannya sebagai perempuan, yang selalu di nomor duakan, yang harus nurut semua aturan, yang harus memenuhi standar turun temurun nenek moyang. Di mata orang lain, ia dinilai orang yang beruntung, tetapi ia merasa tidak bahagia sama sekali. ...