Langsung ke konten utama

Postingan

Kuliner Pinggiran Favorit Rosi di Sekitar ITB

  Haiii...selamat hari Minggu! Pada kesempatan ini, saya ingin sharing tentang makanan-makanan yang saya suka di sekitaran ITB. Oiya, yang mau saya share ini makanan di pinggir jalan ya hehe. Aspek pertama yang saya lihat tentu saja rasa, dan keterjangkauan harga hehe. Faktor ketiganya adalah sistem sanitasinya yang gak jorok-jorok amat. Selama di Bandung, saya harus beradaptasi kuat soal makanan. Bayangkan, orang Sunda disini kalau masak asiiiiiiiinnya masyaAllah. Saya di rumah kalau masak asin dikit, Bapak saya langsung complain “Nduk, kamu ini masak sambil melamunin pacar ya?”, begitu. Nah kalau di Bandung ini hampir semua masakannya asin-asin hiks. Akhirnya saya suka kulineran untuk mencari makanan yang cocok di lidah saya. Oiya, Bandung ini termasuk surganya kuliner. Kreatif banget kotanya. Gak cuma dari sisi seni, olahraga, desain, tata kota dll, tapi kota ini menyajikan tempat makan yang unyu-unyu. Kalau Anda mementingkan sisi instagramable dari sebuah tempat ...

Kebebasan dan Bakti

“Ni, apa yang kamu temukan di huruf Belanda?” Kebebasan. “Lalu, apa yang tidak kamu temukan di huruf Belanda?” Entahlah, aku belum tahu. “Bakti” Potongan dialog tersebut adalah bagian yang paling berkesan bagi saya ketika menonton film KARTINI karya salah satu sutradara favorit, Hanung Bramantyo. Dialog terjadi antara Kartini dengan Ibunya di pinggir kolam yang sangat indah dan damai. Saya tidak ingin banyak spoiler tentang film ini, tapi saya akan mencoba bercerita tentang dalamnya pesan yang saya dapatkan dari dialog tersebut. Seperti yang kita tahu lewat sejarah, Kartini hidup pada masa ketika perempuan berada dalam kurungan adat istiadat. Ia merasa hidupnya terkungkung dengan aturan-aturan ruwet yang mengikis hak dan kebebasannya sebagai perempuan, yang selalu di nomor duakan, yang harus nurut semua aturan, yang harus memenuhi standar turun temurun nenek moyang. Di mata orang lain, ia dinilai orang yang beruntung, tetapi ia merasa tidak bahagia sama sekali. ...

Berbicara tentang Kehalalan di Farmasi

Sekitar 4 hari yang lalu, ada seorang kakak kelas yang menghubungi saya dan pertanyaannya ini membuat saya tidak tenang seharian. Kira-kira begini pertanyaannya : “Oci, ada gak obat sejenis Lovenox? Atau pengganti untuk lovenox tapi yang halal?” Singkat cerita, kakak ini sedang hamil muda, menantikan buah hati yang sudah cukup lama ditunggu. Namun karena kondisi tertentu, beliau harus mengkonsumsi antikoagulan. Kasus ini cukup rumit untuk dunia farmasi dan kedokteran, karena hampir semua obat antikoagulan tidak boleh di konsumsi saat hamil. Alasannya sederhana, antikoagulan ini banyak yang dapat menembus plasenta. Konsekuensinya adalah peningkatan resiko gangguan perkembangan janin dan atau keguguran. Hal ini cukup dapat dimengerti apabila kita kaitkan fungsinya sebagai agen anti penggumpalan darah, padahal jelas bahwa janin terbentuk dari segumpal darah yang akan terus berkembang. Nah... yang disebutkan kakak kelas saya tadi adalah obat yang mengandung zat aktif Enoxaparin (suatu...