Langsung ke konten utama

Postingan

Kebebasan dan Bakti

“Ni, apa yang kamu temukan di huruf Belanda?” Kebebasan. “Lalu, apa yang tidak kamu temukan di huruf Belanda?” Entahlah, aku belum tahu. “Bakti” Potongan dialog tersebut adalah bagian yang paling berkesan bagi saya ketika menonton film KARTINI karya salah satu sutradara favorit, Hanung Bramantyo. Dialog terjadi antara Kartini dengan Ibunya di pinggir kolam yang sangat indah dan damai. Saya tidak ingin banyak spoiler tentang film ini, tapi saya akan mencoba bercerita tentang dalamnya pesan yang saya dapatkan dari dialog tersebut. Seperti yang kita tahu lewat sejarah, Kartini hidup pada masa ketika perempuan berada dalam kurungan adat istiadat. Ia merasa hidupnya terkungkung dengan aturan-aturan ruwet yang mengikis hak dan kebebasannya sebagai perempuan, yang selalu di nomor duakan, yang harus nurut semua aturan, yang harus memenuhi standar turun temurun nenek moyang. Di mata orang lain, ia dinilai orang yang beruntung, tetapi ia merasa tidak bahagia sama sekali. ...

Berbicara tentang Kehalalan di Farmasi

Sekitar 4 hari yang lalu, ada seorang kakak kelas yang menghubungi saya dan pertanyaannya ini membuat saya tidak tenang seharian. Kira-kira begini pertanyaannya : “Oci, ada gak obat sejenis Lovenox? Atau pengganti untuk lovenox tapi yang halal?” Singkat cerita, kakak ini sedang hamil muda, menantikan buah hati yang sudah cukup lama ditunggu. Namun karena kondisi tertentu, beliau harus mengkonsumsi antikoagulan. Kasus ini cukup rumit untuk dunia farmasi dan kedokteran, karena hampir semua obat antikoagulan tidak boleh di konsumsi saat hamil. Alasannya sederhana, antikoagulan ini banyak yang dapat menembus plasenta. Konsekuensinya adalah peningkatan resiko gangguan perkembangan janin dan atau keguguran. Hal ini cukup dapat dimengerti apabila kita kaitkan fungsinya sebagai agen anti penggumpalan darah, padahal jelas bahwa janin terbentuk dari segumpal darah yang akan terus berkembang. Nah... yang disebutkan kakak kelas saya tadi adalah obat yang mengandung zat aktif Enoxaparin (suatu...

Yang Toksik itu Mungkin Aku, Bukan Kamu :)

Dalam setahun belakangan, saya mengalami berbagai peristiwa yang banyak menguras energi dan emosi saya. Ya, mungkin kalian melihat seorang Rosita itu berhasil2 saja...hidupnya selalu bahagia...selalu cemerlang dll. Tapi nyatanya tidak demikian. Mungkin karena memang pembawaan saya yang "tenang", saya seringkali menyembunyikan hal2 yg tidak mengenakkan. Sederhana saja, saya tidak tertarik membuat teman2 melihat penderitaan saya, saya hanya ingin mereka melihat bahwa saya berjuang...dan saya tetap bertahan sampai titik ini. Salah satu hal yg ingin saya bagikan ke teman2 adalah bagaimana saya belajar dari kesalahan saya terdahulu dalam "merespon suatu hal yang tidak mengenakkan". Jujur saja, saya orangnya dulu sangat perfeksionis, sensitif, dan egois. Saya sering lelah dengan asumsi saya sendiri. "Si ini kok kerjaannya gak bener ya?. Oportunis banget...baiknya kalau ada maunya". "Si ini sama temen kok perhitungan amat ya...padahal aku kalau ada ap...

Manusia Perantara

“Dik Ros,...”, kata seorang kakak suatu ketika. Dengan sedikit menarik napas dan menata kata, ia melanjutkan “Aku berhutang budi padamu. Aku harus mentraktirmu, setidaknya untuk sekadar makan bersama”. Beliau saat ini duduk satu semester di bawah saya di Farmasi. Setahun yang lalu, kurang lebihnya, ia pernah menghubungi saya melalui pesan pribadi di facebook. Melalui pesan facebook itu, konon, beliau mengabarkan bahwa beliau sudah di terima di jurusan sama dengan saya, hanya saja beliau tidak bisa langsung mengambil karena mengalami kesulitan dalam pembiayaan. Beliau segera mengucapkan maksudnya untuk bertanya soal beasiswa yang saya terima saat itu. Saya tidak mengenal beliau sebelumnya. Hanya mungkin sesekali melihat namanya dalam notification like saat saya share info tentang beasiswa. Rupanya itulah awal Allah menakdirkan kami untuk saling mengenal dan berbagi. “Jika tidak keberatan, bolehkah saya meminta contoh esai-esai dan berkas lain saat melamar beasisw...