Langsung ke konten utama

Postingan

Mendefinisikan kepintaran dan kebermanfaatan

"Ros, ajari aku persamaan liner dua variabel", kata teman sebangku saya saat SMP. "Oh..PR kemarin ya? Samaaa...aku juga belum mengerjakan", jawab saya sembari beracting meyakinkan. Padahal sejatinya saya sudah selesai mengerjakan PR itu tanpa hambatan yang berarti. Kalau saya mau sedikit berwelas asih, harusnya saat itu sy bs mengajari teman saya untuk mengerjakan. Takut disaingi kepintarannya. Mungkin itulah alasan sederhana saya semasa kanak-kanak dulu. Pola didikan di sekolah yang kompetitif mau tidak mau memaksa saya unt tumbuh menjadi anak yg ambisius, selalu ingin menjadi yang nomor satu...yang paling pintar di sekolah. Sehingga saya menjadi orang yang enggan berbagi ilmu J . Harusnya saya bersyukur krn Allah mengaruniakan saya kemampuan menangkap pelajaran dengan cepat. Tapi rupanya tindakan saya tidak mencerminkan rasa syukur itu. Ada yang terlupakan. Bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan sama seperti saya... mungkin ada beberapa orang ya...

Jarak Antara Kita

Saat ini kita memang harus berjalan sendiri-sendiri... Bukan karena kita enggan untuk saling membersamai... Tapi karena ada sebagian inginmu yang harus kau tuju tanpa aku, dan ada sebagian mimpiku yang harus aku wujudkan sendirian. Anggap saja ini saatnya kita memberi jeda pada jiwa... Mencipta ruang untuk saling berjuang... Menjadikan jarak sebagai harapan yang terserak... Dan waktu sebagai penghubung dua rindu...  Antara aku dan kamu. Dimanapun kamu berada, semoga hatimu selalu kau tautkan padaNya... Sebab padaNyalah selaksa doa melahirkan rasa percaya... Detik detik..derap langkah dan tapak-tapak kaki kita akan selalu menujuNya. Pada nadi kebaikan, dimana kita merasa dipertemukan. Semoga tangan kita selalu abadi saling menggenggam,  hati kita selalu tenang dalam menguatkan.... dalam doa, harap, dan kepasrahan.

Kebahagiaan Terbesar Orang Tua

Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya hari ini saya memaksa diri untuk menulis. Mohon maaf untuk beberapa adik-adik yang ((bahkan)) kirim sms ke saya atau mengirim email supaya saya menulis lagi. Alhamdulillah...daripada saat di kereta saya hanya tiduran saja, lebih baik saya menulis sesuatu. Kebetulan hari ini saya tidak membawa buku bacaan, jadi mungkin saya bisa menjadikan kegiatan menulis ini sebagai kegiatan bermanfaat yang bisa saya lakukan hingga saya sampai jakarta pukul 10 pagi nanti. Semoga bermanfaat ya :) KEBAHAGIAAN TERBESAR ORANG TUA Tadi malam pukul 9 saya memutuskan keluar kosan untuk mencari makan. Setelah kurang lebih 10 menit muter-muter kosan, tempat makan yang saya tuju ternyata tutup semua. Tidak tahu apa alasan persisnya, tapi mungkin karena sudah mendekati ramadhan dan di ITB sedang masa liburan, jadi pembelinya mulai berkurang. Saya pun berjalan menuju tempat jualan, sebut saja bu Indah, untuk membeli sate. Sebelum saya bercerita le...

Kalau kamu hujan

Kalau kamu hujan, Aku tidak ingin berteduh... Karena aku ingin merasakan setiap jatuh rintikmu... Yang kadang kau benamkan dalam-dalam, Tapi pada akhirnya kau hempaskan pelan-pelan.... Kalau kamu hujan, aku tidak ingin melihat denting jarum jam Yang terbiasa melanjutkan perputaraannya, Meski ia tahu bahwa ada anak manusia yang memohon padanya untuk.. Sedikit melambatkan jalannya, agar ia bisa menikmati hujan lebih lama... Kalau kamu hujan, aku tidak akan meneriaki Tuhan.. Karena telah membuatku menggigil dalam basah. Tapi aku menyengaja untuk terus melangkah Kalau kamu hujan, Tak pahamkah kamu melihatku untuk terus berjuang dalam kerasnya rintik yang kau hamburkan? Bandung, 3 April 2016

Kabisat yang Berat

Bismillahirrahmaanirrahiim .... Pukul 04.50 handphone saya berbunyi, saya bangun tidur dengan segera, jujur saja, saya sangat trauma dengan panggilan telepon di pagi hari. Rupanya ada 3 missed call sebelumnya. Karena berasal dari nomor yang tidak saya kenal, saya pun menelepon balik. Di seberang telepon, saya mendengar suara yang berat dari kakak saya sambil terisak-isak dalam tangisnya... Astaghfirullahaladziim ada apa ini? Pikiran saya makin kacau karena beberapa hari yang lalu mama saya sedang tidak enak badan. “Dek, mas Teguh gak ada” Innalillahi wa inna ‘ilaihi roji’uun .... Saya pun menenangkan kakak, sembari memintanya untuk terus berdzikir dan istighfar. Saya tidak bisa mengguruinya saat itu dengan mengatakan “Mbak, yang sabar ya...mbak ini ujian, kita harus menerima dll”. Saya segera menelepon mama saya yang pada jam tersebut sedang di Pasar. Setelah memilih kata-kata yang tepat, saya pun berhasil memberitahu beliau. Beliau langsung meninggalkan s...

Pada Akhirnya Kita Akan Tahu Pada Siapa Kita Harus Bergantung

Tulisan ini dibuat pukul 00.43. Bukan karena saya kerajinan bangun jauh lebih awal dari jam tahajud saya, tapi karena malam ini saya sulit tertidur. Batuk yang saya derita membuat saya tidak nyaman untuk memejamkan mata. Sekalinya saya batuk, tenggorokan dan lambung saya terasa sangat sakit. Mungkin saya sedang radang, dan mau tidak mau besok saya harus ke dokter karena gejala ini sudah berlangsung 3 hari. Sepulang dari acara capacity building, saya mulai merasa demam dan disusul radang seperti ini. Entahlah, sepanjang hidup ini saya selalu berpikiran bahwa umur saya tidak panjang. Bukan, bukan karena saya berprasangka buruk kepada Allah. InsyaAllah tidak seperti itu, tapi memang itulah cara yang ampuh untuk membuat saya hati-hati dengan apapun yang saya lakukan dan saya akan selalu bersemangat dalam menjemput kebaikan. Besok saya belum tentu masih hidup, jadi mungkin inilah saat yang tepat  bagi saya untuk berbuat baik. Itu yang saya pikirkan. Jangan menyia-nyiakan kesempatan...